> Masya Allah, Batas Dua Laut Tak Menyatu Dijelaskan Alquran dan Sains
Loading...

Masya Allah, Batas Dua Laut Tak Menyatu Dijelaskan Alquran dan Sains

Loading...
Loading...

Fenomena laut merupakan satu dari sekian banyak fenomena alam yang menakjubkan. Manusia telah mengetahui bahwa ada pertemuan dua laut dengan karakteristik yang berbeda.

Dalam buku Tafsir Ilmi 'Samudra dalam perspektif Alquran dan Sains' yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan mengenai batas dua laut.

Masing-masing tetap pada kakteristiknya, meskipun secara kasat mata bercampur oleh deburan gelombang. Mengenai hal ini, salah satu ayat Alquran telah mengungkap fenomena tersebut.

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi," Al-Furqan Ayat 53.

Allah menggerakan dua buah laut yang berbeda, yang satu tawar dan yang lainnya asin. Masing-masing bergerak berdampingan namun tidak mengalami percampuran.

Berdasarkan penelitian, para ahli kelautan berhasil menyingkap adanya batas antara dua lautan yang berbeda. Mereka menemukan bahwa ada pemisah antara setiap lautan.

Pemisah itu bergerak di antara dua lautan dan dinamakan dengan front (jabhah), hal ini dianalogikan dengan front yang memisahkan antara dua pasukan. Dengan adanya pemisah ini, setiap lautan memelihara karakteristiknya sesuai dengan makhluk hidup yang tinggal di lingkungan masing-masing.

Di antara pertemuan dua laut itu, terdapat lapisan-lapisan air pembatas yang memisahkan antara keduanya, dan berfungsi memelihara karakteristik khas setiap lautan dalam hal kadar berat jenis, kadar garam, biota laut, suhu dan kemampuan melarutkan oksigen.

Secara saintifik dapat diterangkan alasan-alasan tidak bercampurnya kedua laut tersebut saat bertemu sehingga terdapat batas yang jelas yang memisahkan keduanya.

Batas dua laut dapat berupa batas horizontal, yaitu ketika massa air laut yang satu berada di atas massa air laut yang lain, atau batas vertikal, yaitu ketika massa air laut yang satu berada di sisi massa air laut yang lain atau kedua laut itu berdampingan.

Kandungan kadar garam masing-masing air laut mungkin berbeda. Ketika dua lautan yang berbeda salintas (kadar garam air laut) saling bertemu, kedua lautan itu tidak akan bercampur. Sebagai contoh, perbedaan salintas ternyata membuat air dari Samudra Atlantik tidak bercampur dengan air Laut Mediteranita, tepatnya di sekitar Selat Gibraltar.

Pada bagian bawah Selat Gibraltar, ada gunung bawah laut yang membuat air dari Samudra Atlantik tidak mudah memasuki kawasan laut Mediterania.

LihatTutupKomentar
Loading...