Zikria Dzatil Penghina Risma Kodok Betina KECIDUK! You Can Run, But You Can’t Hide

You can run, but you can’t hide
Begitulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang petinju bernama Joe Louis yang bersinar pada tahun 1940-an. Ia mengatakan hal tersebut di hadapan musuhnya, yang menjadi juara kelas berat, Billy Conn. Silakan berlari, namun pengawasan tetap ada. Joe Louis pun akhirnya dikenal dengan pencetus frase ini.

Demikian yang terjadi pada Zikria Dzatil, warga Jawa Barat, alumni 212 dan pendukung Anies, dalam pelariannya. Ia bisa lari beberapa hari dari hadapan kepolisian. Silakan lari, sekencang-kencangnya. Akan tetapi, persembunyian dari hadapan polisi sungguh mustahil dikerjakan.

Dulu, mungkin untuk mencari seseorang, kita harus menempelkan sketsa wajah di tiang listrik – tiang listrik yang ada di sekitaran tempat suspect alias terduga melakukan aksi untuk dicari bersama-sama. Seperti era Ibrahim alias Tommy Soeharto yang saat itu dilemparkan selebaran DICARI, WANTED. Kalau perlu, ditambahkan kalimat, “dicari, dalam kondisi apapun”. Buat yang mengerti saja. Kalau yang tidak mengerti, ya sudah.

Mungkin saat itu, polisi dan para detektif harus bekerjasama untuk mencari seseorang yang dicari keberadaannya. Karena saat itu, alat komunikasi tidak secanggih sekarang. Dulu alat komunikasi mungkin terhitung jari.

Tidak semua orang memiliki akses komunikasi jarak jauh. Apalagi mengingat dulu sewaktu almarhum ayah saya membawa HP pertamanya yang ia beli dari Singapura dengan merk Motorola.

Besarnya sebesar batu bata. Kasarnya, kalau HP jatuh lantai, yang rusak aspalnya. Saking beratnya. Akses komunikasi saat itu mungkin sulit. Akan tetapi, polisi dan detektif berhasil-berhasil saja tuh. Memang frase You can run but you can’t hide, juga sudah berlaku di masa lalu.

Dulu saja sudah canggih. Apalagi masa kini?

Di era digital dan modern ini, setiap pergerakan tentu bisa diketahui dan dilacak sampai detail. Selama ada akses komunikasi, radar pengawasan tetap ada. Selama memegang HP, gadget. Keberadaan manusia dan gadget sudah sangat melekat.

Manusia sudah termakan oleh gadget dan perkembangan teknologi. Apalagi kebijaksanaan yang begitu minim dalam menggunakan gadget, tentu membuat banyak orang terbuai.

Bahkan saking pesatnya perkembangan teknologi, kita pun bisa tidak sadar mengklik sesuatu, kemudian akses pribadi kita langsung terdeteksi. Inilah yang menjadi komoditas para pakar dan hacker yang bergerak dalam bidang IT ini.

Maka dari itu, rasanya sudah tidak mungkin orang bisa hilang dari peredaran. Mau buang HP sekalipun, pasti akan ditemukan. Mau berlari sekencang apapun, mencoba untuk bersembunyi di kuburan pun, pasti terdeteksi polisi.

Zikria Dzatil adalah sosok yang benar-benar kurang ajar bermedia sosial. Pendukung Anies Baswedan yang menjalankan kebatilan hidup dan menghina Walikota Surabaya, Tri Rismaharini alias Ibu Risma ini, tidak bijak. Ibu rumah tangga ini bahkan berani-beraninya memposting foto Ibu Risma dan memberikan caption kodok betina.

Kurang ajar sekali. Menghina ciptaan manusia, sesama imannya dengan Risma, dengan sebutan hewan. Orang ini sudah tertutup kebencian yang amat sangat. Mau sebagus apapun pakaian penutup auratmu, selama masalah itu ada di dalam otak, tidak akan bersih.

You can hide your head and hair, but you can’t hide your dumbness.

Itulah sifat dari natural stupidity. Membenci itu tidak akan pernah membuat orang menjadi pintar. Pasti akan ada kebodohan alami yang muncul entah dari mana. Kebencian memiliki sifat seperti itu. Lihat saja Anies. Dia dendam kepada Jokowi, dan apa yang menjadi outputnya? Kebodohan belaka bukan?

Akhirnya, Polres Surabaya pun berhasil menemukan titik posisi GPS dari perempuan Zikria Dzatil yang katanya ibu rumah tangga itu, dan memposisikan beberapa orang untuk menciduknya.

Laporan diterima oleh Kapolrestabes Kombes Sandi Nugroho pada tanggal 21 Januari 2020, dan dibiarkan berlari beberapa minggu, kemudian dicomot begitu saja. Mantap betul.

Mungkin masa kecil Zikria Dzatil yang kabarnya merupakan ibu rumah tangga itu, kurang bahagia. Dia main polisi malingnya saat sudah berkeluarga. Kan telat dewasa banget gak sih lu?

"Sudah kami amankan, tapi masih dalam pemeriksaan. Nanti dirilis oleh Pak Kapolrestabes (Surabaya, Kombes Pol Sandi Nugroho)," jawab Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran, Sabtu (1/2/2020).