Sering Diajak Salat, Alfaro Akhirnya Jadi Mualaf, Subhanallah

Sejatinya salat wajib atau sunnah pada dasarnya merupakan bentuk percakapan (muhadatsah) antara hamba dengan Allah SWT. Oleh karena itu harus dilakukan dengan senang hati dan gembira.

Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, Fitrianti Mariam Hakim mengatakan, suatu percakapan yang dilakukan dengan baik atau dengan teori etis, maka dapat menciptakan kenyamanan, ketersambungan, dan tercipta harmoni. Harmoni dengan Allah dalam salat mampu membuat orang yang salat lebih khusyuk ibadahnya.

 salat

Melakukan suatu aktivitas apapun jika tidak didasarkan atas rasa ikhlas, maka buntut dari itu hanya membuahkan rasa capek, serta lelah dengan banyaknya energi terkuras yang terbuang.

Demikian juga dalam melakukan salat. Ibadah apapun yang dilakukan dengan tidak senang dan tidak ikhlas pasti tidak akan membuahkan hasil yang baik dan tidak akan bertahan lama.

Oleh karena itu, agar kita bisa salat dengan senang maka kita harus membangun kecintaan dan memupuk kecintaan itu. Selain itu juga harus menjadikannya sebagai bagian tidak terpisahkan, bukan mustahil bila kita merasakan ketenangan dan kehati-hatian dalam hidup. Tetapi jika atas dasar paksaan, maka semua itu tiada arti atau menjadi kesia-siaan.

Dalam Alquran Allah SWT berfirman,

قل انفقوا طوعا أو كرها لن يتقبل منكم . إنكم كنتم قوما فسقين (53)

“Katakanlah, ‘Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya, kamu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah : 53)

Ayat tersebut memang tidak secara langsung menyinggung tentang ketidakikhlasan seseorang dalam melaksanakan salat. Akan tetapi, ayat itu bisa kita tarik pada ranah yang lebih luas lagi, yang kaitannya dengan keberadaan seseorang yang berada dalam keadaan terpaksa, tidak ikhlas, atau melakukan sesuatu bukan atas dasar rasa senang, atau atas dasar seruan dari hatinya yang terdalam.

Pada intinya ayat tersebut menjelaskan bahwa sesuatu yang dilakukan secara terpaksa, maka tiada bernilai. Demikian halnya dalam melakukan salat, yang hanya membuat kita capek dan buang-buang energi saja jika tidak dikerjakan secara menyenangkan.

Allah pasti akan mengetahui jika seseorang hamba berbuat suatu amalan bukan atas dasar perasaan ikhlas atau senang. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya berikut,

إن تكفروا فإن الله غني عنكم. ولا يرضي لعباده الكفر. وإن نشكروا يرضه لكم، ولا تزر وازرة وزر أخرى. ثم إلى ربكم مرجعكم فينبئكم بما كنتم تعملون. إنه عليم بذات الصدور (7)

“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu. Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu. Dan seorang yang berdoa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian, kepada Tuhanmu-lah kembalimu, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu.” (QS. Az-Zumar : 7)

Bila perasaan senang lebih dulu menguasai hati kita, maka sulit bagi kita untuk berpaling. Salat bila dilakukan secara menyenangkan, tentunya menjauhkan kita dari perasaan berat.

Seperti dilansir dari website Pondok Pesanten Tebuireng, dampak baik yang akan dirasakan oleh orang-orang yang melakukan salat secara menyenangkan, hatinya tenang dan rona kebahagiaan terpancar dari auranya. Sebab, salah satu kelebihan dari orang-orang yang rajin dalam salatnya adalah terpancarnya rona tersebut.

Kecintaan dan kesenangan tersebut dengan sendirinya dapat menghadirkan candu. Apabila kita sudah terbiasa melakukan salat setiap hari, secara otomatis apabila suatu waktu kita lupa atau ada faktor lain yang menyebabkan kita tidak melaksanakannya, maka rasanya seolah ada yang kurang atau kurang lengkap.

Sungguh, termasuk orang-orang yang beruntung yang bisa memberikan contoh atau teladan kebaikan dalam hal beribadah, baik untuk diri sendiri dan orang-orang sekitar kita.

Sungguh, ibadah menjadi penuntun sekaligus cahaya yang menerangi setiap jalan gelap dalam kehidupan orang-orang yang membangun, serta menjaga kesenangan dan kecintaannya terhadap amalan-amalan baik agar tidak luntur dan terkikis. Merekalah yang akan menjadi pemenang di akhirat kelak melalui ridha-Nya.