Astagfirullah, Pelaku Perobekan Al Quran di Medan Diringkus Polrestabes Medan

Petugas Polrestabes Medan berhasil meringkus pria berinisial DIM (44). Kamis (13/2/2020). Pria tersebut diduga melakukan perobekan terhadap kitab suci Al Quran dan robekannya disebar di ruas Jalan Sisingamangaraja XII  Medan, belum lama ini. Informasi yang diperoleh dari markas Polrestabes Medan, Kamis (13/2/2020) siang, tersangka DIM merupakan seorang kuli bangunan, warga Jalan Utama Medan Kota.

Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jhonny Edison Isir mengungkapkan, tersangka DIM diamankan pihak kepolisian, Kamis (13/2/2020) pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Penangkapan DIM dilakukan diduga saat akan melakukan perbuatan yang sama untuk kedua kalinya di Masjid Raya Al Mashun, Kamis (13/2/2020).

“Jadi berdasarkan penyelidikan dari hasil rekaman CCTV di sekitar lokasi, perbuatan tersangka ini pertama kali dilakukannya pada Jum’at (31/1/2020) lalu. Modusnya masuk ke dalam mesjid dan mengambil kitab suci Al Quran dari almari yang ada di dalam mesjid dan membawanya ke kamar mandi,” sebut Jhonny, Kamis (13/2/2020) sore di Mapolrestabes Medan.

Setelah berada di dalam kamar mandi, kata Jhonny, tersangka kemudian merobek salah satu lembaran Al Quran tersebut. Dia lalu merobek-robeknya menjadi empat potongan. Tersangka selanjutnya memasukkan robekan-robekan tersebut ke dalam kantong plastik. Selanjutnya, dia membuangnya di trotoar depan masjid hingga berserakan di ruas Jalan Sisingamangaraja Medan.

“Terlihat dalam CCTV tersangka berjalan dari areal mesjid menuju ruas jalan. Kemudian membuang kantong plastik berisi robekan lembaran Al-Qur’an tersebut saat berdiri di trotoar. Robekan-robekan itu kemudian ditemukan warga. Itu menjadi pemicu kehebohan hingga akhirnya diselidiki polisi bersama pihak BKM mesjid,” jelasnya. Dia juga memperlihatkan video rekaman kamera Closed Circuit Television (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.

Polisi Diduga Pelaku Perobekan Al Quran Libatkan Pihak Lain
perobekan al quran

Kombes Pol Jhonny Edison Isir mengungkapkan, pihaknya saat ini masih mendalami lebih jauh aksi penistaan agama yang dilakukan tersangka. Dia menduga kuat hal tersebut dilatarbelakangi motif yang lebih mendasar dan terstruktur, serta melibatkan pihak lain.

“Ini yang masih terus kita dalami. Apakah ada pihak lain yang terlibat di balik aksi yang dilakukan tersangka dengan tujuan tertentu? Kita menduga, ada pihak-pihak yang berusaha ingin merusak kondusifitas Kota Medan melalui isu-isu yang bisa memancing konflik SARA seperti ini,” ungkapnya.

Dirinya mengimbau masyarakat khususnya umat muslim Kota Medan agar tidak terpancing emosi dengan adanya peristiwa berbau SARA tersebut. Pasalnya saat ini pihak kepolisian masih terus mendalami kasus tersebut sekaligus memproses hukum tersangka pelaku yang telah diamankan.

“Atas kasus ini tersangka dikenakan jerat Pasal 156 KUHPidana tentang penistaan agama dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara. Kita imbau masyarakat tidak terpengaruh dengan isu-isu beraroma SARA serupa ini. Pihak kepolisian akan menindak hukum pelaku dan mendalami kasus tersebut,” pungkasnya.