Modyar! Membati Buta Bela Anies, Uni Fahira Idris Kena Skakmat Rame-Rame oleh Netizen +62

Netizen mana sih yang gak kenal sama istri pengacara Buni Yani --Aldwin Rahadian, Fahira Idris?

Ia merupakan putri sulung dari Fahmi Idris, --seorang pengusaha yang juga politisi senior Partai Golkar.

Saat SBY berkuasa dulu, si Fahmi ini pernah diangkat menjadi Menteri Perindustrian.



Nah, berkat modal dan pengaruh dari orang tuanya itu, Fahira bisa duduk di kursi DPD-RI Dapil DKI Jakarta.

Uniknya, meskipun si Fahira ini bukan berasal dari keluarga PKS, tapi beberapa cuitan di akun Twitter-nya @fahiraidris berbau SARA banget.

Berikut diantaranya :

"Target Liberal untuk membolehkan orang kafir memimpin di wilayah mayoritas umat Muslim. #PropagandaLiberal"

"Karena hanya Islam yang suci dan ulama mulia yang boleh masuk ke dalam politik agar tidak dikotori para politisi durjana. #PropagandaLiberal”

Kedua tweet itu dibuatnya pada Maret 2016 silam lalu, yang mana saat itu Ahok yang non muslim itu masih menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.

Artinya apa?

Fiks! Si Fahira ini memang tidak suka sama Ahok sudah sejak lama.

Ketidaksukaannya tersebut bukan karena mantan Bupati Belitung Timur itu gak becus bekerja, tapi sentimen, karena status agamanya yang non muslim.

Di Pilkada DKI 2017, Fahira pun terlibat dalam upaya untuk menjegal Ahok terpilih kembali menjadi gubernur DKI.

Dengan cara apa?

Tidak lain tidak bukan dengan bergabung bersama Kadrun, seperti FPI dan PA 212 --mendukung Anies.

Si Fahira ini juga tercatat sebagai Alumni 212 lho.

Dan, saat Kongres 212 pada 2017 lalu, ia menurunkan anggota Bang Japar untuk mengamankan area kongres tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, tercatat sekitar 100 personel Bang Japar se-DKI Jakarta yang dilibatkan dalam prosesi pengamanan itu.

"Sesuai perintah dan arahan Ketua Umum Bang Japar, Fahira Fahmi Idris dan Sekjen, Eka Jaya bahwa Bang Japar tegas mengawal semua rangkaian acara Reuni 212 dari Kongres hingga Reuni 212 di Monas. Dari semua lini kepanitiaan saya sebarkan personil Bang Japar untuk berjuang mensukseskan jalannya Reuni 212," ujar panitian utusan dari Bang Japar, Musa Marasabessy kala itu, (01/12/2017).

Dan --cita-cita perempuan yang pernah menyebut Buni Yani sebagai ustadz itu akhirnya terwujud.

Berkat politisasi ayat dan mayat hingga demo berjilid-jilid, Anies akhirnya terpilih menjadi gubernur DKI, menggantikan Ahok.

Tapi ternyata, punya gubernur se-iman tidak lantas membuat Jakarta auto jadi kota terbaik di dunia.

Punya gubernur Muslim juga tidak lantas membuat banjir di Jakarta hilang seketika dan angka korupsi di ibukota negara itu berkurang secara sistematis, masif dan terstruktur.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Pertama, Jakarta dapat penghargaan sebagai salah satu kota dengan Indeks Kota Toleran (IKT) terendah se-Indonesia dari Setara Institute.

Lembaga yang berbasis di Indonesia yang melakukan penelitian dan advokasi tentang demokrasi, kebebasan politik dan hak asasi manusia itu menyebut, kota Jakarta berada di peringkat 92 dari 94 kota dalam Indeks Kota Toleran.

Tapi, kalau melihat kondisi DKI Jakarta saat ini, sungguh sangat-sangat wajar kalau disebut tidak intoleran.

Karena, markas FPI saja terdapat di sana. Yang imam Besarnya pernah tersadung kasus chat esek-esek, tapi laskarnya tetap saja merasa pemilik kavling surga.



Kemudian, soal penggunaan anggaran. Banyak banget yang unfaedah.

Untuk beli aica aibon saja Rp 82 miliar. Untuk beli pulpen Rp 123,8 miliar. Anggaran untuk anti virus Rp 12 miliar. Dll

Sepertinya, di balaikota DKI virus-virus jahat lagi banyak-banyaknya bertebaran, sehingga anggaran yang digelontorkan untuk mencegahnya pun mencapai angka miliaran rupiah.

Selanjutnya, masalah banjir. Beberapa warga DKI menyebut, banjir di awal tahun 2020 ini adalah banjir terparah sepanjang 20 tahun terakhir. Sembilan warga DKI tewas akibat kelelep air, tersengat aliran listrik, hanyur terbawa arus, dan kena hipotermia.

Dan belasan ribu warga terpaksa mengungsi entah ke mana.

Padahal dulu Wan Aibon pernah berjanji lho bahwa hasil program naturalisasi sungai yang diinisiasinya akan terlihat pada akhir tahun 2019 ini.

Dan terbukti, di awal tahun 2020 hasilnya kelihatan. Bahwa naturalisasi sungai itu hanyalah bacot doang.

Koplaknya, sudah jelas-jelas naturalisasi sungai ala Anies ini tidak memberikan manfaat apa-apa buat warga DKI, tapi menurut Uni Fahira solusi mengatasi masalah banjir di Jakarta lebih baik pakek naturalisasi daripada normalisasi.

"Kalau naturalisasi tuh kita enggak perlu segera membebaskan lahan tanah, kita tumbuhkan poho-pohon dan sebagainya, itu lebih efektif untuk Jakarta," ujar fans Buni Yani itu.

"Tentunya kepala daerah itu yang paling tahu wilayahnya, kadang bisa (beda) pendapat dengan pusat, tapi menurut saya Pak Gubernur Anies sebagai kepala daerah Provinsi Jakarta sudah tahu yang terbaik untuk Jakarta tuh apa. Nah terbaik tuh naturalisasi dan saya mendukung" sambungnya.

Pertanyaannya, dimana letak kelebihannya, naturalisasi sungai itu dibandingkan normalisasi?

Jelas-jelas kalau naturalisasi itu bermanfaat, warga DKI tidak akan adan yang tewas kelelep air.

Kemunduran berpikir ala Fahira inilah yang membuat netizen auto geram.

Masa hanya karena mendukung Anies, otaknya jadi terbalik kayak kampret gitu.

Berikut beberapa komentar kegeraman warganet dunia maya terhadap pendiri Bang Japar tersebut.

“Memainkan isu agama dalam politik sungguh merusak obyektifitas. Dan nalar kritis terhadap pemimpin benar-benar mati. salah atau benar, masuk akal atau tidak sudah tidak penting lagi. Meski ada keluarga yang jadi korban bencana, tidak apa-apa, yang penting bela terus”, cuit @dimas_skeptis

“Si ibu gendut ginnak-ginnuk sok jadi ahli tata kota”, cuit @SoejarwoYanti

“Mules juga lihat wanita ini. Muka lu aj yah dinaturalisasi sama lumpur sisa banjir Jakarta. Biar makin cantik”, cuit @Erik24873949•

“Apapun yang Anis lakukan pasti didukung sama si Mpok ini. Duit bang duit. Dia diem ketika korban jiwa berjatuhan akibat bencana banjir. Dia iblis betina”, cuit @shiaLebaou

“Kadang suka jengkel, kenapa manusia bodoh model gini bisa terpilih jadi senator’, cuit @neckerhc20

Setelah dipikir-pikir, pernyataan Uni Fahira Idris ini, Jakarta cocok naturalisasi ada benarnya juga. Tapi yang dinaturalisasi itu Alisson Becker, Andy Robertson dan Lionel Messi. Biar Persija jadi juara terus gitu.

Kalau sungai sih cocoknya dinormalisasi.