Daftar BO Pelajar Salatiga Cantik

Mendengar informasi jika mencari “teman tidur” dari kalangan pelajar di Kota Salatiga tidaklah sulit, ternyata memang benar. Bahkan tarifnya pun tergolong ‘pahe (paket hemat)’ alias sangat terjangkau bagi kantong pria hidung belang atau lebih beken disebut ‘Pasien’ khususnya. Dari penelusuran beberapa hari yang dilakukan harian7.com, ternyata tarif sekali kencan kalangan pelajar SLTA di Salatiga antara Rp 250.000 – Rp 400.000. Semua itu tergantung dari kesepakatan kedua pihak.

          Sebut saja Mitha (17) warga wilayah Kecamatan Tingkir, Salatiga mengaku jika dirinya siap meladeni kencan lelaki tanpa harus kenal duluan. Selama ini, dirinya mempunyai “penghubung” dalam mencarikan lelaki yang siap kencan dengan dirinya. Bahkan, penghubung tersebut dalam menyebutkan tarifnya juga sama dengan dirinya. Karena, penghubung tersebut jika mendapatkan “pasien” (istilah lelaki hidung belang) akan mendapatkan fee.
          “Saya dalam kencan dengan lelaki yang belum saya kenal, biasanya awalnya melalui penghubung yang sudah kerjasama dengan saya. Jika penghubung itu mendapatkan ‘pasien’ maka akan telepon ke nomor HP saya. Dan tarifnya biasa yang ditawarkan penghubung sebesar Rp 400.000 kepada lelaki yang memesannya. Namun, tarif ini tidak saklek dan masih bisa digoyang atau ditawar lagi,” ujar Mitha
          Untuk bisa ketemu, dirinya tidak mau dijemput di tempat kostnya, namun dimana lelaki itu sudah memesan hotel maka dirinya akan datang langsung ke hotel tersebut. Untuk pertama kali kencan, maka akan diantarkan penghubung, namun jika sudah saling mengetahui maka dirinya akan sendiri mendatangi hotel yang dimaksudkan.
          Ternyata Mitha tidak sendiri, pelajar salah satu SMA di Salatiga ini mempunyai tim yang berjumlah lima orang yang semuanya masih pelajar kelas II SMA. Kelima temannya ini tarifnya rata-rata sama dengan Mitha. Hanya saja, tarif itu dapat berubah jika kedua manusia lain jenis ini sudah bertemu dan berkencan, bahkan bisa lebih mahal lagi. Biasanya, tarif akan mahal, jika lelaki yang mengajak kencan itu cocok dan senang akan ‘servis’ yang diberikan.
          “Selain saya, ada lima teman saya yang satu tim dengan saya. Mereka merupakan satu sekolah dengan saya dan tarifnya pun sama. Hanya saja, kami dalam berkencan ini tidak mau jika diajak mengiinap. Biasanya, usai pulang sekolah dan maksimal jal lima sore harus sudah pulang. Kami seperti ini karena ada sebabnya, dan untuk penyebabnya tidak perlu saya ceritakan,” terang Mitha didampingi Nia dan Sinta, ketika ditemui di salah satu cafe di Salatiga, Sabtu (13/12) malam.
          Menurut anak nomor 2 dari 4 bersaudara ini, bahwa dirinya siap menemani tidur “pasien” itu, asal tidak di hotel di Kota Salatiga. Selama ini, dirinya sudah memiliki hotel langganan di daerah Kabupaten Semarang yang tidak jauh dari Salatiga. Dibayar berapapun jika diajak kencan di hotel di Kota Salatiga, maka akan ditolaknya secara halus.
          “Untuk hotel apa dan dimana, tidak perlu saya sebutkan. Jika mas berminat saya temani, baru saya sebutkan. Yang jelas tidak di Salatiga. Saya jamin hotel itu bersih, aman dan nyaman untuk berkencan,” kata gadis asal Batang dengan manja.
          Hal yang sama dikatakan Tika (18) yang bukan nama sebenarnya, bahwa dirinya mau menemani kencan ‘pasien’ itu, asal diatas jam sekolah dan pulang sebelum pukul 18.00 wib. Pasalnya, usai bubaran sekolah, dirinya akan pulang dulu di rumahnya di wilayah Kecamatan Argomulyo untuk ganti pakaian. Setelah itu, akan lngsung mendatangi ‘pasien’ yang mengajak kencan dengannya, sesuai kesepakatan melalui telepon dan akan langsung menuju hotel yang dimaksudkan.
          “Untuk saya, masalah hotel silakan dimana saja asal tidak di Salatiga saja. Selama ini, saya lebih banyak di hotel daerah Kopeng Kabupaten Semarang. Karena, di daerah ini sekarang banyak hotel yang bagus, murah dan bersih serta aman. Yang jelas, saya siap melayani kencan siapapun dari Senin – Jumat, untuk Sabtu dan Minggu, acara keluarga bersama orangtua,” tutur Tika.
          Baik Mitha, Nia, Sinta dan Tika, keempatnya ini mengaku akan senang jika ‘pasien’ yang mengajak kencan itu langsung pada tujuannya. Artinya, sebelum kencan di hotel, mereka tidak mau diajak makan bareng atau karaoke duluan. Bahkan, mereka juga tidak mau dijemput dirumahnya atau ditempt kostnya, namun akan langsung mendatangi hotel yang menjadi kesepakatan.
          Dari ngobrol masalah ‘kencan’ tersebut, ternyata mereka itu rata-rata anak orang mampu. Hanya saja, mereka nekat melakukan kencan dengan lelaki lain yang bukan pacar atau pun apa sebutannya itu, semata-mata hanya mencari uang diluar uang saku pemberian orangtuanya. Bahkan, dari mereka dalam melakukan hubungan intim dengan ‘blak-blakan’ menolak jika lelaki ‘pasiennya’ itu memakai alat kontrasepsi yaitu kondom. Alasannya, merasa jijik dan tidak nyaman serta tidak nikmat.
          “Terus terang mas, saya mau melayani hubungan intim, asalkan ‘pasien’ saya itu tidak memakai kondom. Saya jijik dan tidak nyaman. Kalau dikatakan apa tidak takut hamil, maaf itu tidak dapat saya ceritakan. Yang jelas, semua perbuatan itu ada resikonya, namun bagaimana kita bisa menjaga resiko itu,” pungkas Tika. (SAN)