Tiru Teknik Ninja, Mahasiswi Jepang Tulis Esai dengan Tinta Tak Kasat Mata


Eimi Haga, seorang mahasiswi di Mie University yang khusus mempelajari sejarah ninja menjadi pembicaraan di dunia maya. Pasalnya sang dosen mempublikasikan esai kreatif yang dia tulis.

Menurut laporan BBC (10/10), esai tersebut ditulis oleh Haga dengan tinta tak kasat mata yang hanya bisa dibaca dengan teknik khusus.

Tantangan Esai Kreatif dari Sang Dosen

Haga dan rekan-rekan sekelasnya diminta untuk menulis esai tentang kunjungan ke Museum Ninja Igaryu. Sang dosen berpesan agar para mahasiswa membuat tulisan sekreatif mungkin. Tulisan paling kreatif akan diganjar dengan nilai tinggi.

Sebagai penggemar berat ninja, Eimi Haga pun bertekad untuk membuat esai lain dari yang lain.

"Ketika dosen berkata di kelas kalau beliau akan memberikan nilai tinggi untuk kreativitas, saya memutuskan untuk membuat esai saya menonjol jika dibandingkan esai lainnya," tutur Haga.

"Saya berpikir-pikir selama beberapa waktu, kemudian mendapat gagasan soal aburidashi."

Aburidashi, Teknik Korespondensi Rahasia Kuno

Haga menulis esainya dengan teknik aburidashi. Ini adalah cara kuno yang digunakan warga Jepang untuk berkirim surat secara rahasia. Surat ditulis dengan tinta tak kasat mata. Tulisan baru dibaca setelah kertas dipanaskan.

Haga mencoba berbagai bahan dan cara untuk mewujudkan esainya. Bahan yang dipilihnya adalah kedelai tumbuk.

Mahasiswi 19 tahun yang mengagumi segala hal tentang ninja gara-gara menonton anime itu merendam kedelai semalaman, menggerusnya, dan menggunakan air perasannya sebagai tinta.


Baru Bisa Dibaca Setelah Kertas Dipanaskan

Ketika dosen Haga menerima beberapa lembar kertas kosong, dia langsung menyadari kalau mahasiswinya itu menggunakan teknik aburidashi untuk tugasnya. Namun dia tak menduga hasilnya bakal cukup bagus.

"Saya sudah pernah melihat laporan yang ditulis dengan kode, tetapi tidak pernah menemukan yang ditulis dengan teknik aburidashi," tutur Profesor Yuji Yamada.

"Sejujurnya, saya ragu kata-katanya bakal terbaca jelas. Tetapi ketika kertasnya saya panaskan di atas kompor gas di rumah, kata-katanya muncul begitu jelas dan saya berpikir, 'bagus!'".

Yamada sengaja tidak membaca keseluruhan esai Haga. Dia hanya memanaskan sebagian kertasnya dan menunjukkan kertas itu kepada media.

Dengan demikian bisa terlihat jelas efek sebelum dan sesudah teknik aburidashi yang berhasil diwujudkan sang mahasiswi. Tampaknya dosen sejarah ninja ini benar-benar terkesan dengan upaya anak didiknya.